Problematika Remaja - Kebebasan Anak Dosa Bagi Orang Tua
KEBEBASAN ANAK DOSA BAGI ORANG TUA
Kata orang zaman sekarang anak-anak remaja hidup mulai usia 15 tahun. benar tidaknya ucapan ini mungkin tergantung dari orang tua si anak. Namun lepas dari pendapat subyektif betapa sering kita mendengar keluhan atau melihat kenyataan bahwa anak remaja sekarang pada usia itu adakalanya mempunyai keinginan aneh-aneh.
Begitu Populer istilah "kenakalan remaja" digembar-gemborkan orang tua. Dimana-mana kenakalan remaja tak pernah alpa dalam lingkungan, baik dikota kecil maupun kota besar selalu disiarkan mulut satu dengan yang lain. Anak-anak remaja sekarang bukan prestasi yang disodorkan pada bangsanya tetapi kenakalannya yang memuncak bagaikan api berkibar-kibar di angkasa.
Mengapa orang tua begitu sukar mengatasi anak-anaknya ? Jawabnya tak lain karena orang tua begitu sayangnya atau cintanya terhadap anaknya. Atas dasar kecintaan itulah orang tua tak ingin anaknya terjerumus pada tindakan yang tidak baik. Tetapi bisa juga apa yang dilakukan orang tua kurang mengena di hati remaja. Istilah "kenakalan remaja" berbaur sinisme, suatu hal yang tidak beres. Ia suka marah tanpa alasan, Padahal anak-anak yang berusia 15, 16 sampai 19 tahun.
Orang tua berusaha untuk menghindari konflik dengan anaknya tetapi tanpa alasan anaknya tiba-tiba menjadi agresif. Lagipula tingkah laku anak-anak sekarang jauh berbeda dari tahun-tahun kemarin. Sering juga ada anak menyesali perbuatannya kemudian minta maaf.
Kesulitan ini membuat kita tak tahu apa-apa yang akan terjadi dimasa depan, kelihatan begitu susah menanggulanginya padahal anak-anak remaja sekarang paling gampang untuk ditanggulangi dengan jalan apa pun agar bisa mulus sampai di terminal. Bukan karena kurangnya lapangan kerja tetapi si anak kurang perhatian terhadap orang tua. Jadi reamaja remaja sekarang selalu minta diperhatikan, apalagi orang tua dalam kehidupan sehari-harinya sibuk dengan urusan masing-masing, hingga lupa kepada anak, maka bukan tak mungkin si remaja tadi akan mencari perhatian dalam suatu bentuk lain.
Nah, apabila demkian alasan orang tua maka remajapun bisa jadi semakin meningkatkan frekuensi kenakalanya.
Kadang-kadang juga bisa ada faktor lain yang memarahkan keadaan. Kesulitan orang tua yang mungkin sudah mulai sakit-sakitan, anak-anak yang manis dulu sudah mencari jalan sendiri bagaimana orang tua supaya tetap menyayangi anaknya seperti dulu.
Disamping itu remajapun sering menggerutu manakalah kenakalannya selalu dibicarakan, sementara kenakalan yang dilakukan orang tua yang dipeti-eskan Remaja harus belajar untuk untuk melihat kenyataan. Hidup ini bukan tanpa batas dan masa depan, buka selalu tentang kebahagiaan dan sukses. Apakah kesadaran itu ataukah kenakalan remaja itu datangnya pada diri sendiri tidak menjadi soal. Apakah hal itu terjadi dalam pekerjaan atau kehidupan pribadi, apakah sudah mencari tingkat tertinggi atau tetap orang tua kecil semua tidak menjadi soal.
Untuk itu perli kiranya orang tua mawas diri. Pepatah mengtakan "Biar orang tua begini tetapi anaknya juga jangan sampai begini". Itu memang bagus. Tetapi lebih bagus bila orang tua memberi ketauladanan kepada remaja.
Disamping itu remaja harus lebih tahu diri. Apabila orang tua menasehati jangan mau menantang, ya jangan, syukur orang tua mau menasehatimu dengan perhatian kasih sayang dengan penuh rasa cinta terhadamu yang penuh dengan dosa yang tak disengaja. Orang tua tidak perlu mengingatkan anak-anak remaja bila tindakannya tidak baik. Tentunya dengan rasa yang penuh rasa hormat. Itu akan tergantung pada diri kita seperti orang tua yang pada suatu hari melihat bahwa anaknya sudah besar, bisa senang bahwa anaknya sekarang sudah dewasa, sudah pandai membedakan pahit dan manis. Tetapi jangan lupa mengiringi dari belakang.
Begitu pula remaja jangan takut. apabila tahu bahwa yang dilakukan orang tua tidak benar, ya jangan di ikuti, syukur ada saling mengingatkan kekeliruan masing-masing. Tentunya dengan cara yang penuh rasa hormat.
prcayalah orang tua denggan sikap "temuannya" akan menerima saran masukan dari remaja yang sekitarnya positif. Dan apabila yang demikian terwujud, diharapkan hubungan orang tua dengan remaja akan serasi. Keserasian ini menjadi harapan dan dambaan semua pihak.
Kita jangan terus berpikir bahwa zaman lain keadaan laen. Rasanya sekarang memang lebih banyak orang yang mengalami kritis. itu memang bisa dimengerti. Tapi ini sudah zaman modern. Orang-orang tua sudah banyak "makan garam" jadi ia pandai mengawasi anak remaja ini.
Zaman sekarang bagi orang-orang di negara maju, hidup tidak terlalu sulit, sehingga mereka mempunyai waktu lebih banyak untuk membimbing anaknya dengan memperhatikan apa yang diingini si anak. begitulah setiap orang tua banyak mengalami kritis setengah umur.
Padahal orang tua tidak kelihatan apa-apa, semua berjalan lancar, tetapi ada juga yang mengalami banyak kesulitan, orang harus insyaf bahwa ada impian yang tidak biasa untuk menjadi kenyataan. Janganlah terus memegang teguh pada kekuaan. Kalau orang tua tak mau melepaskan anak, tak mungkin ada hubunan dewasa antara orang tua dan anak. Kalau orang tua mau melihat anaknya berkembang dan tidak melalui kenakalan. Sejak kecil orang tua harus memperhatikan ketauladanan pada anak yang sudah pandai membedakan hitam dengan putih dan orang tua jangan lupa mengintip dari belakang si anak dengan perhatian penih kasih sayang dan jangan lupa membantah si anak turuti saja sampai dimana keslahannya baru diberi pengertian.

saya selalu suka dengan semua postingan bapak, semoga bisa selalu memberikan yang terbaik
ReplyDeleteterima kasih
DeleteBaik lah, potingan yang sangat positif. Terus berbagi ya min
ReplyDeleteTerima kasih
ReplyDeletependidikan moral penting sangat buat anak sejak dini
ReplyDeleteanak tanggung jawab orang tua, perlu diawasi perkembangannya. saya suka postingan ini
ReplyDeleteTerima Kasih
Delete