Demi Ambisi - PLH Kepala Sekolah Melakukan Sistem Kerja Paksa di SDN 272 LATTIE Kab. SOPPENG
KERJA PAKSA, demi sebuah ambisi melahirkan realita yang kini sedang berlangsung di sdn 272 lattie.
KERJA PAKSA, Gagasan Kreatif PLH SDN 272 Lattie Mengubah Barang Bekas Menjadi Taman Asri
LATTIE – Di tengah berbagai tantangan pengelolaan lingkungan yang dihadapi sekolah-sekolah saat ini, sebuah gagasan menarik muncul dari SDN 272 Lattie. Berangkat dari keprihatinan terhadap banyaknya barang bekas yang belum dimanfaatkan secara optimal, Pelaksana Harian (PLH) Kepala SDN 272 Lattie (Amriuddin, S.Pd.) merancang sebuah program inovatif yang diberi nama KERJA PAKSA.
Sekilas, nama tersebut mungkin terdengar tidak biasa. Namun di balik nama yang unik itu tersimpan sebuah konsep pendidikan lingkungan yang sarat makna dan nilai pembelajaran bagi peserta didik.
KERJA PAKSA merupakan akronim dari Kreasi Edukasi Recycle Jaga Alam – Peduli Aksi Kelola Barang Sisa Menjadi Taman Asri. Program ini dirancang sebagai gerakan bersama untuk mengubah barang-barang bekas yang selama ini dianggap tidak bernilai menjadi sarana penghijauan dan penataan lingkungan sekolah.
Menurut penggagasnya, ide tersebut lahir dari pengamatan sederhana terhadap kondisi lingkungan sekitar sekolah. Barang-barang bekas seperti botol plastik, kaleng, ember rusak, ban bekas, dan berbagai limbah rumah tangga lainnya masih sering berakhir menjadi sampah. Padahal, jika dikelola dengan baik, benda-benda tersebut dapat memiliki fungsi baru yang bermanfaat.
“Sekolah tidak harus selalu menunggu bantuan atau anggaran besar untuk menciptakan lingkungan belajar yang nyaman. Dengan kreativitas dan kemauan bersama, barang-barang yang selama ini dianggap sampah dapat diubah menjadi sesuatu yang bernilai,” ungkapnya.
Lebih dari sekadar program kebersihan sekolah, KERJA PAKSA dirancang sebagai media pembelajaran yang melibatkan peserta didik secara langsung. Melalui program ini, siswa diajak untuk mengenali permasalahan lingkungan, mengumpulkan barang bekas, memilahnya, kemudian mengolahnya menjadi berbagai sarana pendukung taman sekolah.
Dalam proses tersebut, peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan. Mereka juga dilatih untuk berpikir kreatif, bekerja sama, memecahkan masalah, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar.
Konsep ini sejalan dengan semangat pembelajaran yang menempatkan peserta didik sebagai pelaku utama dalam proses belajar. Lingkungan sekolah tidak lagi hanya menjadi tempat berlangsungnya pembelajaran, tetapi juga menjadi laboratorium nyata tempat siswa belajar melalui pengalaman langsung.
Keunikan lain dari program ini adalah kemampuannya menjawab dua kebutuhan sekaligus. Di satu sisi, program ini membantu mengurangi jumlah barang bekas yang berpotensi menjadi sampah. Di sisi lain, program ini mendukung upaya menciptakan lingkungan sekolah yang lebih hijau, bersih, dan nyaman.
Bagi SDN 272 Lattie yang berada di wilayah pegunungan dengan berbagai keterbatasan sarana dan prasarana, pendekatan semacam ini menjadi solusi yang relevan. Program tidak bergantung pada teknologi tinggi maupun biaya yang besar, melainkan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar.
Tidak hanya melibatkan guru dan peserta didik, program ini juga direncanakan untuk melibatkan orang tua, komite sekolah, serta masyarakat sekitar. Partisipasi berbagai pihak tersebut diharapkan mampu memperkuat rasa memiliki terhadap lingkungan sekolah sekaligus membangun budaya peduli lingkungan yang berkelanjutan.
Apabila direalisasikan secara konsisten, KERJA PAKSA berpotensi menjadi salah satu program unggulan sekolah yang tidak hanya menghasilkan perubahan fisik berupa taman yang lebih asri, tetapi juga perubahan karakter peserta didik.
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu lingkungan dan pendidikan karakter, gagasan yang lahir dari SDN 272 Lattie ini menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu hadir dari tempat-tempat dengan fasilitas lengkap. Terkadang, inovasi justru lahir dari sekolah yang mampu melihat peluang di balik keterbatasan.
KERJA PAKSA menjadi bukti bahwa barang bekas tidak selalu berakhir sebagai sampah. Dengan sentuhan kreativitas, kepedulian, dan semangat gotong royong, barang-barang tersebut dapat berubah menjadi sarana pendidikan yang bernilai sekaligus mempercantik lingkungan sekolah.
Jika gagasan ini berhasil diwujudkan, maka yang tumbuh bukan hanya taman-taman hijau di halaman sekolah. Yang lebih penting, akan tumbuh generasi yang memahami bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar slogan, melainkan tindakan nyata yang dimulai dari hal-hal sederhana di sekitar mereka.
Selengkapnya tentang detail Tahapan pelaksanaan program Kerja Paksa, baca melalui tautan berikut:

Comments
Post a Comment