Ideologi Pandangan Dunia Terhadap Epistemologi
Ideologi Pandangan Dunia Terhadap Epistemologi
![]() |
| Buku Rujukan Materi |
Pertanyaan
Perambah
1.
“Darimana pengetahuan itu ?”
2.
“Apa hubungan pengetahuan dan yang
mengetahui ?”
Pembahasan
singkat
Ideologi
: Jawaban atas pertanyaan bagaimana kita mempertanyakan sesuatu itu. Denga kata
lain ideologi jawaban dari atas pertanyaan bagaimana cara melakukan sesuatu/
tindakan. Contohnya pertanyaan “bagaimana cara minum kopi ?” tentu kita
memiliki konsep cara minum kopi, dengan mengangkat gelas kemudian mengarahkan
perlahan ke mulut, dst. Itulah konsep yang bersistem namun hanya sekedar konsep
belum merupakan praktik/fakta. Manusia memiliki konsep tentang cara bertuhan
namun masih ada manusia yang tidak melaksanakan sesuai dengan konsep yang
diketahui. Ada suatu pengertian yang dibangun ketika manusia memiliki banyak
konsep yaitu, belum tentu dia melakukan tindakan sesuai konsep-konsep tersebut.
Pandangan
Dunia/ Konsep teoritis: jawaban atas pertanyaan apa itu.
Epistemologi
: berkaitan tentang teori pengetahuan, dalam teori pengetahuan kita membahas
antara yang kita pikirkan dan apa yang kita saksikan itu masuk kedalam
pemahaman kita dan menjadi pengetahuan. Jawaban atas pertanyaan darimana
pengetahuan dan apa hubungan antara pengetahuan dan realitas atau eksistensial.
Mengenai
epistemologi, ada empat yang menjadi landasan teori berpikir manusia.
1.
Teori
Plato
Teori ini sering
dikenal sebagai teori Platonik/ Pengingatan kembali yang ada sebelum masehi,
dibawakan oleh Plato yang mengatakan bahwa pengetahuan itu berasal dari alam
ide. Alam ide berada diluar diri manusia atau dalam agama disebut sebagai Lauhul Mahfus. Apapun yang kita lakukan
hari ini pernah terjadi sebelumnya di alam ide, contohnya kita sering mengalami
kejadian yang disebut Dejavu,
kejadian yang seolah-olah kita pernah mengalaminya.
Plato beranggapan bahwa pengetahuan berasal dari alam idea, alam ide itu alam yang sempurna artinya segala sesuatu ada dialam ide dan kita semua pernah berada di alam ide tersebut, yang dinamakan ide Universal/alam sempurna tempat dimana jiwa manusia perna ada, dalam agama disebut Lauhul Mahfus (tempat sesuati tidak musna). Segala sesuatu di Lauhul mahfus termasuk pengetahuan ada di alam tersebut, tempat dimana manusia bersaksi terhadap Tuhan-nya seperti yang dikemukakan oleh kaum agamawan mengenai ayat, ketika Tuhan mengambil persaksian terhadap roh manusia. Pada surah Al-Araaf : 172 (…”Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, Betul Engkau Tuhan kami, kami bersaksi,”…).
Pemikiran kaum agamawan
sama dengan pemikiran Plato, sehingga memunculkan persepsi “Mungkin saja
agama-agama didoktrin oleh pemikiran Plato tentang alam idea sehingga tercipta
konsep surga dan neraka yang di imajinasikan menjadi teologi syahwat.
Teori Plato, jiwa yang
hidup dialam idea kemudian turun kealam materi/jasad dan mengalami keterlupaan.
Kita jadi melupakan segala sesuatu yang pernah kita miliki dialam ide. Bahkan
manusia tidak mengingat kalau Ia pernah bersaksi terhadap Tuhan-nya pada saat
dialam idea. Oleh karena itu nabi hadir diperintahkan memberikan peringatan,
peringatan yang dimaksud yaitu pengingatan kembali.
Jiwa bergabung dengan
Jasad/Alam material menyebabkan hilangnya semua pengetahuan, tetapi jiwa dapat
memualai mendapatkan kembali pengetahuannya dengan cara persepsi indra gagasan-gagasan tertentu dan hal-hal khusus. Jadi pertanyaan mengenai “darimana
pengetahuan itu?”, menurut Plato adalah berasal dari alam idea/Alam Sempurna.
Pertanyaan “Apa hubungan pengetahuan dan yang mengetahui?”, hubungannya menurut
Plato terpisah karena bukan sesuatu yang eksis secara abstrak.
Fakta : contoh orang
yang merokok, semula rokok sempurna tidak memiliki abu; kemudian setelah
beberapa saat rokok tersebut berubah menjadi abu. Pertanyaan yang muncul
“darimana abunya?”, tidak mungkin dari rokok karena rokok tidak memiliki abu
dan tidak terbuat dari abu, begitu juga dengan api. Jadi, terciptanya satu
realitas yang baru karena sesuatu tersebut dihubungkan.
Sementara dalam
teorinya Plato, ia tidak mampu menghubungkan antara Jasad dan Jiwa sehingga
terbantahkan teori milik Plato. Plato: untuk mengetahui sesuatu harus mengingat
kembali dengan cara melihat sesuatu yang ada dihadapannya atau sekelilingnya
karena ala mini adalah suatu menifestasi atau cerminan dari realitas.
2.
Teori
Rene Descartes
Seorang filosos Prancis
yang hidup diabad ke 17, mengatakan bahwa manusia memiliki innate idea/ ide
fitri. Pengetahuan-pengetahuan yang niscaya/pasti memang sudah ada dalam kepala
manusia, dengan kata lain konsep pengetahuan manusia memang bawaan dari lahir
merupahan gagasan-gagasan tuhan.
Apapun yang disaksikan
dialam ini adalah penyaksian tentang perubahan. Segala sesuatu berubah-ubah,
jadi apapun yang ada didunia merupakan sumber keraguan/ketidakpastian. Melihat
realitas, ada perang batin dalam diri manusia atau dialektika keraguan.
Kepastian tidak didapatkan dialam ini karena ini adalah alam keraguan.
Descartes bertanya kepada dirinya bahwa “tidak mungkin saya ragu atas keraguan
saya terhadap alam ini”.
Keraguan itu sendiri
melahirkan kepastian, sedangkan Descartes mengatakan tidak ada kepastian dialam
ini sehingga Descartes menilai bahwa manusia itu melihat alam sebagai sumber
keraguan akan tetapi tidak menciptakan kepastian. “Darimana kepastian itu?”,
kepastian berasal dari yang lain, alam yang disebut Innate Idea/Ide Fitri,
sesuatu yang niscaya atau pasti.
Descartes: “Aku
berpikir maka aku ada”, jadi manusia dikatakan ada ketika ia berpikir. Yang
tidak berpikir dikatakan tidak ada, tidak ada ini ditafsirkan dalam keraguan,
karena contohnya hewan tidak berpikir, masa hewan tidak ada, Descartes kemudian
bimbang melihat alam.
Sumber pengetahuan
Descartes Innate Idea dan Alam, dimana Innate idea sumber kepastian dan Alam
sumber keraguan.
Pertanyaan “darimana
pengetahuan itu?”, menurut Descartes yaitu, Innate idea dan Alam material. “Apa
hubungan alam yang menciptakan keraguan dan yang menciptakan kepastian?”,
Descartes tidak mampu menjawabnya. Sehingga lahirlah dualisme Cartesian, yang
menciptakan eksploitasi terhadap ala mini, karena menciptakan satu filsafat
sains bahwa alam dan manusia terpisah/berbeda. Atroposentris (pemusatan
keberadaan pada manusia), manusia paling berkuasa dialam semesta.
Intinya: karena alam
berubah maka tidak mungkin dia pasti, berarti ada sumber keraguan dan
kepastian.
3.
Teori
Empirisme
Filosof terkenal yaitu
David Hume dan John Locke. Kalangan empirisme mengatakan apapun pengetahuan
yang kita miliki berasal dari alam material. Alam material sebagai sumber
pengetahuan.
Coba bayangkan sesuatu
yang tidak pernah dilihat, contohnya: gunung emas, manusia berkepala kuda.
Tidak pernah disaksikan secara realitas tetapi bisa melalui imajinasi, konsep
ini namanya penggabungan. Penggabungan gagasan/ konsep-konsep yang tunggal
menjadi majemuk. Mempersatukan konsep yang satu dengan yang lain.
Semua yang kita
imajinasikan itu bersal dari alam material, itulah teori empirisme.
Teori empirisme tidak
mampu menghubungkan antara pengetahuan dengan alam material, karena ketika kita
melihat sesuatu langsung ada dalam kepala kita, ini tidak mampu dijelaskan
secara ilmiah bahwa realitas itulah yang masuk kedalam kepala kita.
4.
Teori
Disposesi
Ini adalah teori para filosof Muslim pada
umumnya. Ia dapt diringkas dalam pembagian konsep menjadi dua bagian yaitu, konsep
skunder (sumber pengetahuan) dankonsep primer (alat pengetahuan). Sumber pengetahuan
antaranya persepsi dan ide, alat pengetahuan antaranya indra dan alam.
“Sebab saya mempersepsi
akibatnya muncul ide”. Hubungan saya yang mengetahui dan objek yang saya
ketahui adalah hubungan sebab-akibat. Apa hubungan antara sebab dan akibat,
yaitu tan pa sebab tidak ada akibat, jadi hubungan antara sebab-akibat adalah
kepastian atau keniscayaan.
Tidak mungkin ada
akibat kalau tidak ada sebab, ini doktrin yang ditanamkan teori disposesi untuk
menganalisis informasi yang diperoleh. Ketika mengeluarkan konsep sebab-akibat
dalam suatu masalah, maka masalah itu tidak akan terselesaikan.
Doktrin yang dimaksud
adalah doktrin atau prinsip PNLR, yaitu Prinsip Niscaya Lagi Rasional atau
prinsip tidak mungkin salah. Prinsip niscaya lagi rasional kemudian dijadikan
sebuah hukum berpikir, untuk menganalisis informasi yang diperoleh.
Prinsip niscaya lagi
rasional/ hukum berpikir:
Kausalitas:
Sebab – Akibat. Segala sesuatu membutuhkan sebab untuk ada kecuali “Sebab” itu
sendiri.
Non-Kontradiksi:
tidak ada sesuatu yang berkontradiksi. Penyangkalan dan pembenaran tidak dapat
terjadi pada hal yang sama (waktu yang sama). Contoh : “tidak mungkin amri
berbicara sekaligus diam” , “tidak mungkin sesuatu yang hitam sekaligus putih”.
Non-kontradiksi
merupakan induk logika, jadi untuk menciptakan logika yang baik menggunakan
prinsip non-kontradiksi. Logika merupakan kaidah berpikir.
sumber: kajian-kajian dan diskusi-diskusi dikampus,
buku rujukan : Falsafatuna (Muhammad Baqir Awh-Shadr)

Mantap👍
ReplyDeleteSebab tuhan berkuasa akibatnya manusia diciptakan
ReplyDeleteHukum sebab-Akibat
ReplyDelete👍👍👍
ReplyDeleteGood
ReplyDeleteSebab yang tak tersebabkan ?
ReplyDeletesemoga bermanfaat, mudah dipahami, jelas
ReplyDeletemantap
ReplyDeletesangat bermanfaat
ReplyDeletemantaplah
ReplyDeletesaran yang membangun dibutuhkan penulis
ReplyDeleteg
ReplyDeleteGood
ReplyDeleteMudah dipahami, mantap👍
ReplyDeleteGood
ReplyDeleteSemoga sehat selalu, mudah dipahami isinya
ReplyDeleteSemoga bapak selalu diberi kesehatan, bisa terus berbagi ilmu kepada kita semua. Saya suka
ReplyDeletehttps://www.blogger.com/follow.g?view=FOLLOW&blogID=21533315200601041
ReplyDelete