Menalar Eksistensi Tuhan

MENALAR EKSISTENSI TUHAN

SKB (Sekumpulan Kaum Berpikir)

Ada banyak tawaran jalan yang katanya membawa pada kebenaran namun nyatanya penuh liku dan membawa pada penyesatan. Setiap orang ingin hidup pada kebenaran, oleh karenanya mereka mencari dan mempelajarinya dari sejarah, tradisi, lingkungan, berbagai guru, kitab-kitab suci, atau dari berbagai literatur lain.

Apakah kebenaran itu ?

Benar artinya sesuai dengan kenyataan. Contohnya adalah 1+1=2 benar karena sesuai dengan kenyataan, maka kebenaran adalah konsep atau gagasan yang sesuai dengan kenyataan/realitas. Dalam hal realitas empiris kebenaran bersifat objektif, karena manusia mengacu pada bukti empiris, yang berlaku sama dan objektif bagi setiap orang karena ada bukti empiris yang mengkonfirmasi.

Dalam realitas non-empiris persoalannya menjadi berbeda, misalnya saja tentang: tujuan hidup manusia, cara manusia menjalankan hidup di dunia, nilai-nilai moral, kehidupan setelah kematian, dsb, itu semua abstrak dan tidak memiliki bukti empiris yang dapat dijadikan acuan. Maka kebenaran non-empiris dapat berbeda-beda setiap orang atau bersifat subjektif yaitu setiap orang mendefinisikan sendiri kebenaran tersebut sesuai persepsi dan pemikirannya.

Karena  kebenaran non-empiris ini subjektif dan berbeda-beda maka sesungguhnya manusia tidak mungkin mampu mengetahui realitas/kebenaran non-empiris yang sesungguhnya. Justru kebenaran non-empiris seperti tujuan hidup, cara hidup, nilai moral, kehidupan setelah kematian, dan lain-lain adalah kebenaran esensial.

Kebenaran esensial yang dimaksud adalah kebenaran yang perlu diketahui manusia untuk menjalani kehidupan, contoh; mengetahui dengan tepat berapa diameter bulan merupakan suatu kebenaran tapi bukan kebenaran esensial, karena informasi itu tidak perlu diketahui untuk menjalani kehidupan, sebaliknya mengetahui bagaimana dosa kita dapat diampuni adalah kebenaran esensial karena informasi itu perlu diketahui untuk menjalani kehidupan.

Hanya ada satu kemungkinan agar kebenaran esensial non-empiris itu dapat diketahui secara objektif, yaitu jika ada satu pribadi Maha tahu yang memberitahukannya kepada manusia. Pribadi ini Maha tahu karena dialah yang menciptakan dan merancang seluruh kehidupan dan segala sesuatu yang ada. Pribadi maha tahu dan pencipta inilah yang kita sebut sebagai Tuhan, karena Tuhan adalah pencipta dari segala sesuatu yang ada dan Dia Maha Tahu, maka apapun yang dinyatakan Tuhan kepada manusia adalah kebenaran yang sesungguhnya yaitu kebenaran yang objektif dan mutlak.

Hanya dengan menerima kebenaran yang dinyatakan Tuhan kepada kita saja, manusia dapat mengetahui kebenaran esensial yang dibutuhkan untuk menjalani kehidupan (tidak ada alternatif lain). Oleh karena itu syarat pertama kepada manusia agar dapat mengenal dan mengetahui kebenaran esensial adalah percaya pada Tuhan yang Maha Pencipta segala sesuatu.

Apa pentingnya memahami kebenaran esensial?         
                     
Bagi orang beriman dengan memahami kebenaran esensial kita dapat menjalani hidup sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Tuhan, karena Tuhan Sang Pencipta adalah pemilik segala kebenaran yang tahu dengn tepat bagaimana manusia harus menjalani kehidupan maka hidup menurut kehendak Tuhan adalah hidup terbaik yang dapat dijalani manusia.

Seperti apa bentuk kehidupan yang terbaik bagi manusia?

Tidak ada yang lebih baik selain kehidupan tuhan sendiri, maka kehidupan terbaik yang mungkin bagi manusia adalah ikut ambil bagian dalam kehidupan tuhan atau dengan kata lain hidup bersma Tuhan. Ini berlaku saat kita hidup di dunia sekarang ini maupun nanti dalam kehidupan setelah kematian, itulah bentuk kehidupan terbaik bagi manusia. Hidup bersama Tuhan hanya dapat dicapai dengan menjalani hukum-hukum dan perintah Tuhan (tidak ada alternatif lain).

Tapi yang menjadi masalah, smpai sekarang Tuhan tidak dapat dibuktikan keberadaannya secara empiris sehingga bagi sebagian orang Tuhan itu tidak ada. Namun ini bukan alasan untuk menolak keberadaan Tuhan. kita dapat mengetahui keberadaan udara yang tak dapat dilihat dari fenomena yang disebabkannya, seperti daun-daun bergerak  atau yang kita hirup. Demikian juga kita sampai pada kesimpulan adanya Tuhan dengan mengamati alam ciptaan-Nya, dengan segala fenomena dan hukum-hukum alam yang ada didalamnya.

Beberapa contoh argumen/cara untuk dapat mengetahui keberadaan Tuhan; yang pertama argumen berdasarkan gerakan, berdasarkan sebab-akibat, berdasarkan keberadaan yang mungkin dan perlu, berdasarkan derajat kualitas, berdasarkan rancangan cerdas di alam.   

Argumen berdasarkan gerakan

Setiap yang bergerak pasti ada yang menggerakkan atau disebabkan oleh sesuatu penggerak yang lain. Jika ini ditelusuri hingga kebelakang maka kita akan sampai pada suatu titik dimana ada suatu penggerak pertama yang tidak digerakkan oleh apapun juga. Penggerak pertama yang tidak digerakkan oleh apapun itulah yang disebut sebagai Tuhan.

Argumen berdasarkan sebab-akibat

Segala sesuatu ada atau terjadi karena suatu sebab, jika ini ditelusuri terus hingga kebelakang maka kita akan sampai pada suatu titik dimana ada penyebab pertama yang keberadaannya tidak disebabkan oleh apapun juga. Suatu penyebab pertama yang keberadaannya yang tidak disebabkan oleh apapun (sebab yang tak tersebabkan), itu adalah Tuhan.

Argumen berdasarkan keberadaan yang mungkin dan perlu  

Hampir mirip dengan argumen-argumen sebelumnya, namun dengan sedikit pendekatan yang berbeda. Argumen ini berdasarkan pada dua jenis keberadaan yaitu keberadaan yang perlu dan keberadaan yang mungkin.

Contoh; bagi orang tua saya, keberadaan saya (anak) bisa ada atau mungkin ada maka keberadaan saya (anak) dalam konteks ini hanyalah keberadaan yang mungkin, tapi agar saya (anak) ada maka keberadaan orang tua saya (anak) harus ada terlebih dahulu (tidak mungkin tidak). Dalam hal ini keberadaan orang tua saya adalah keberadaan yang perlu.

Jika ini di telusuri hingga kebelakang, kita akan sampai pada suatu titik dimana keberadaan seluruh ciptaan bias ada atau tidak ada, tapi ada sesuatu yang perlu ada agar seluruh ciptaan atau alam semesta ini dapat ada tanpa sesuatu yang perlu ada itu maka tidak mungkin ada apapun. Satu-satunya hal yang keberadaanya mutlak perlu ada itu adalah Tuhan.  

Ketiga argumen ini memiliki kesamaan yaitu pada dasarnya berargumen bahwa alam semesta berawal pada satu titik permulaan. Sekarang kebenaran argumen ini telah dikonfirmasi kebenarannya oleh sains, yang mengatakan bahwa alam semesta memang memiliki awal.

Argumen berdasarkan derajat Kualitas

Suatu sifat memiliki derajat kualitas yang berbeda-beda misalnya baik, punya derajat kebaikan artinya ada sesuatu yang lebih baik dari yang lain. Juga pada yang indah, ada derajat keindahan artinya ada sesuatu yang lebih indah dari yang lain. Dsb..
Adanya derajat kualitas yang berbeda-beda dari sifat-sifat tersebut  dimungkinkan karena ada satu ukuran kesempurnaan yang menjadi tolak ukur dari semua sifat-sifat tersebut. Kesempurnaan yang menjadi tolak ukur dari segala sifat itu adalah Tuhan.

Oleh karenanya kita menyebut Tuhan dengan sebutan; Maha besar, Maha Baik, Maha Bijaksana, Maha Adil, dsb…

Argumen berdasarkan rancangan cerdas di alam

Sesuatu yang kompleks dapat ada dialam karena ada kecerdasan yang merancangnya, ini dapat dianalogikan dengan anak panah yang ditembakkan tepat pada sasaran karena ada pemanah yang mengarahkannya. Kesimpulannya bahwa seluruh alam semesta yang begitu kompleks namun berjalan dengan hukum alam yang teratur seperti sekarang ini dapat ada karena adanya suatu kecerdasan super yang telah merancang semuanya yaitu Tuhan.

Argumen ini dikembangkan lebih lanjut dengan contoh analogi pembuat jam; jika kita menemukan sebuah jam, tidak mungkin jam tersebut muncul begitu saja di alam. Mengingat kompleksnya fungsi yang ada didalamnya, jam itu pasti memiliki pembuat. Dengan demikian keberadaan jam tersebut sudah cukup untuk membuktikan keberadaan si pembuat jam.

Dengan menggunakan analogi yang sama kita akan sampai pada kesimpulan bahwa seluruh alam semesta yang begitu kompleks dan berjalan dengan hukum yang  teratur ini, membuktikan adanya pribadi yang maha cerdas yang telah merancangnya yaitu Tuhan.

Perkembangan sains juga memperkuat argumen berdasarkan cerdas/desain. Dari pengamatan sains, sejauh ini keberadaan bumi adalah planet yang memungkinkan adanya kehidupan begitu unik dan tidak terdapat dibagian lain dari alam semesta. Besar bumi, adanya bulan yang mengitari bumi, jarak antara bumi dengan matahari, dan lain sebagainya telah dirancang sedemikian rupa sehingga memungkinkan bumi menjadi tempat adanya makhluk hidup termasuk manusia.

Jika saja besar bumi berbeda atau jaraknya dengan matahari berbeda dengan yang sekarang, entah lebih panjang atau lebih pendek, atau besar matahari berbeda dengan ada sekarang maka keadaan pelanet bumi akan sama dengan planet-planet lain yang ada di alam semesta, yaitu tidak memiliki kehidupan.

Berdasarkan fakta ini kita dapat menagmbil kesimpulan adanya pencipta Maha Cerdas yang telak merancang alam semesta. Adanya pengaturan (fine-tuning) sedemikian rupa dalam proses terbentuknya alam semesta sehingga memungkinkan adanya bumi sebagai tempat bagi kehidupan manusia dikenal dengan istilah prinsip Kosmologi Antropik .

Sesungguhnya keberadaan Tuhan yang tak terlihat itu dapat diketahui manusia berdasarkan penalaran akal sehat. Sekarang banyak bukti sains yang telah mendukung berbagai argumen tentang keberadaan Tuhan. Bukti empiris keberadaan Tuhan memang sampai saat ini belum ada, tapi asalan untuk mempercayai keberadaan Tuhan sudah cukup tersedia bagi manusia.

Ketika berhadapan dengan penolakan gigih kaum Atheist yang terus menyangkal keberadaan Tuhan , masalah sesungguhnya bukan terletak pada tidak adanya alas an yang cukup untuk mempercayai eksistensi Tuhan. Tapi pada keengganan  mereka untuk mengakui keberadaan Tuhan, karena keberadaan Tuhan memiliki konsekuensi bahwa manusia harus hidup menurut hukum-hukum dan tujuan tujuan yang telah ditetapkan Tuhan, inilah yang ditolak oleh kaun Atheist.
Mereka ingin hidup menurut aturan yang bias mereka tentukan sendiri, dan menurut tujuan yang bisa mereka tentukan sendiri.

Pilihan atheist bukanlah pilihan yang cerdas. Bagi mereka; jika memang Tuhan tidak ada, maka keuntungannya kecil saja yaitu mereka bisa hidup sesuka hatinya.  Tapi jika ternyata Tuhan ada maka kerugiannya akan sangat besar, Karena dia akan mengalami sengsara kekal di neraka.

Sebaliknya bagi seorang beriman; jika Tuhan ternyata tidak ada  maka kerugiannya kecil saja yaitu dia harus hidup menurut ajaran tuhan fiktif selama hidupnya didunia. Tetapi jika Tuhan sungguh ada maka ia mendapat keuntungan yang besar karena mendapatkan bagian dalam kehidupan kekal.

Jadi dengan memperhitungkan resiko dan keuntungannya, memilih percaya pada tuhan atau Theist memiliki keuntungan yang sangat besar dengan resiko yang kecil. Sementara memilih tidak percaya pada tuhan atau atheist memberikan keuntungan yang kecil dengan resiko yang besar.

Jika kita ringkaskan semuanya berdasarkan argument tentang eksistensi tuhan maka percya pada Tuhan adalah pilihan yang dapat dipertanggung jawabkan oleh akal sehat.

Masalah pada kenyataannya, ada banyak agama yang mengajarkan Tuhan yang berbeda satu sama lain, tidak mungkin semua tuhan yang diajarkan agama sama benarnya. Jika tuhan benar ada maka pasti hanya ada satu Tuhan yang benar sedangkan tuhan-tuhan yang lainnya salah. Sementara itu, hanya percaya pada tuhan yang benar saja yang dapat memberikan keuntungan hidup kekal. Sebaliknya percaya pada tuhan yang salah akan memiliki konsekuensi yang sama dengan Atheist, manusia akan menerima hukuman kekal dineraka.

Argumen eksistensi Tuhan yang telah dibahas hanya menjelaskan adanya tuhan tapi tidak menjawab manakah tuhan yang benar dari sekian banyak klaim/konsep mengenai tuhan. Yang pasti menjadi Atheist adalah pilihan yang salah/buruk.

Bagaimanakah Manusia dapat menemukan dan percaya pada tuhan yang benar ?  


Amriuddin - ada pendapat yang berbeda, bisa diskusikan.



Comments

  1. Bagaimanakah Manusia dapat menemukan dan percaya pada tuhan yang benar ?

    ReplyDelete
  2. Tuhan pasti kebenaran, dan hanya satu Tuhan

    ReplyDelete
  3. Akal yang sehat dapat menalar keberadaan tuhan, begitu pula sebaliknya

    ReplyDelete
  4. Percaya kepada yang benar, berarti percaya kepada Tuhan

    ReplyDelete
  5. Bagus, saya suka isinya.. mempermudah memahami

    ReplyDelete

Post a Comment