Melayani Tuhan melalui Manusia

Bagaimana sikap hidup yang sebaiknya ?

Nabi Muhammad SAW adalah figur tokoh dunia yang dapat kita contoh atas pelayanannya yang besar terhadap Tuhan. Beliau memiliki hati besar yang menjadikannya bijaksana sebagai panutan bagi kita semua. Beliau mampu memahami siapa diri kita dan apa tujuan kita ada dimuka bumi.



Kondisi Jantung yang tepat membuat kita memiliki hati yang baik, yang akan mampu melahirkan pemahaman mengenai siapa diri kita dan apa tujuan kita ada di muka bumi ini. Jantung yang dalam bahasa arab "qalbu'' dan sering diterjemahkan sebagai "Hati" diyakini menjadi organ tubuh yang paling berharga. Hingga ada pepatah mengatakan, "Siapa mengenali hatinya (qalbu), maka ia akan mengenal Tuhannya."

Kita sering mendengar bahkan menggunakan istilah 'hati Nurani'. Istilah inilah yang sebenarnya mengacu kepada sebaik-baiknya hati yang akan mampu menerima kebaikan dari Tuhan. Hati nurani inilah yang akan mengantarkan kita pada fitrah kita sebagai manusia. Fitrah untuk senantiasa mendekat kepada-Nya dan beramal dengan tujuan hanya untuk mendapatkan cinta dan ridha-Nya.

Melayani sebenarnya adalah fitrah manusia. Bukankah tujuan kita diciptakan hanyalah untuk beribadah kepada Tuhan ?.
Sudah sewajarnya apabila hidup kita sepenuhnya digunakan untuk melayani Tuhan. Namun tentu tak ada cara melayani Tuhan secara langsung karena Tuhan tidak butuh pelayanan kita. Yang ada kita melayani sesama atas nama Tuhan, karena Tuhan , dan untuk Tuhan.

Namun kenyataannya, sebagai makhluk transaksional, manusia memang selalu mencari keuntungan untuk dirinya sendiri. "Kalau saya melayani kamu, apa keuntungannya bagi saya ?"
karenanya, jika yang membutuhkan bantuan kita adalah orang yang kita anggap pentig, kita akan segera membantu melayaninya. sebaliknya, jika yang membutuhkan bantuan itu adalah orang yang sama sekali tidak kita kenal atau kita tidak memiliki kepantingan dengannya, mungkin kita akan berpikir sebelum membantu atau melayaninya.

Padahal jika kita kembali kepada fitrah kita sebagai manusia yang memang harus hidup bersama dengan orang lain dan saling membantu, maka kita akan bisa memaknai kata 'transaksional' ini dengan lebih benar. bukankah perilaku itu melahirkan perilaku yang benar. Jadi jika kita selalu memilih perilaku yang benar, dengan senantiasa memberikan pelayanan terbaik kepada siapa pun mereka, baik itu kepada orang yang kita anggap penting maupun yang tidak, bukankah kita juga akan mendapatkan hal yang menguntungkan bagi kita. Entah apa itu, dari siapa, kapan, dan dimana.

Dan bukankah Tuhan senantiasa menyerukan  untuk berbuat kebaikan?
Seperti yang tertuang dalam Al-Quran, Surat An-nahl ayat 90:
"sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, memberi (pertolongan) kepada kerabat dan melarang berbuat yang keji, mungkar, dan zalim. Dia mengajari kamu agar kamu mendapat petunjuk."  
Dilanjutkan di ayat 97:
"Barang siapa yang berbuat kebaikan dari laki-laki atau perempuan dan dia mukmin, niscaya KAMI menghidupkannya dengan kehidupan yang baik, dan KAMI memberi balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan"
 Jika masih memilih dan membedakan cara melayani berdasarkan siapa yang kita layani, Jika masih sering menggerutu saat harus melayani, berarti kita belum memahami bahwa hakikat hidup ini adalah melayani Tuhan.

Pemahaman mengenai melayani itu Fitrah dapat kita pahami dengan sederhana. Allah SWT itu tidak membeda-bedakan orang karena pekerjaannya, di akhirat nanti 'kita tidak ditanya kita dulu kerjanya apa, gajinya berapa. yang ditanya itu 'dulu tanganmu kamu pakai untuk apa? Dulu kakimu kamu pakai untuk apa?

Yang penting kita ikhlas.Kalau kita Ikhlas, orang yang kita bantu akan bahagia. Kalau dia bahagia, itu rezeki buat kita. Alhamdulillah. Banyak urusan kita yang akan dimudahkan Allah.

Allah SWT itu punya jalan banyak untuk memberikan rezeki. makanya kita tidak pperlu menyebut berapa ke orang-orang yang minta bantuan kita. Terserah mereka saja, kita harus yakin bahwa Allah SWT itu tidak tidur.

Setiap perbuatan baik pasti akan kembali kepada kita. Tidak selalu serta-merta. Tidak harus dalam bentuk gaji. itu bisa berbentuk keberuntungan-keberuntungan yang dihadiahkan Tuhan untuk orang yang pantas mendapatkannya.

Pekerjaan adalah cara, bukan tujuan. Cara untuk mendapatkan kehidupan yang bahagia. Selama cara kita benar, tujuan kita akan tercapai.

Peta bukanlah wilayah. Bahwa yang tampak belum tentu yang sebenarnya. Cara kita memandang suatu masalah tidaklah menjelaskan bagaimana masalah itu, namun menjelaskan siapa dan bagaimana diri kita akan bereaksi terhadap masalah itu.

Bagi banyak orang, profesi tukang becak hanyalah salah satu jenis pekerjaan rendahan yang tidak diminati. Namun, bagi saya pekerjaan tukang becak adalah cara saya menunaikan fitra saya sebagai manusia, memudahkan orang lain, dan membantu menyelesaikan kesulitan sesama.

"Siapa yang menyelesaikan kesulitan saudaranya dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, Allah akan menyelesaikan kesulitan-kesulitannya di hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat" -HR. Muslim_

Bagaimana dengan Anda? JIka anda seorang Guru yang harus mendidik siswa anda, terbayangkah betapa banyak hal yang bisa Anda lakukan untuk memudahkan bahkan menyelesaikan kesulitan siswa keluarga siswa Anda?.
Saat Anda telah bersedia mendidik atau membimbing seorang siswa karena keluarganya telah memberikan kepercayaan kepada anda untuk melakukan hal tersebut dimana keluarganya kesulitan untuk melakukan semua hat itu, betapa anda telah membatu keluarga siswa Anda tersebut. Dan bukankah seharusnya kesulitan dalam hidup anda pun akan dimudahkan Tuhan sebagai balasannya?

Jika anda seorang pelayan publik di kantor pemerintahan, betapa banyak sekali masyarakat, baik itu yang berpendidikan maupun rakyat biasa degan segala keterbatasannya, yang akan terbantu dengan pelayanan Anda. Dan bukankah Tuhan selalu menepati janjinya. saat Anda telah memudahkan urusan orang lain, maka Tuhan akan memudahkan urusan Anda.

Bukankah pekerjaan adalah sebuah 'panggilan' dari-Nya? Bukankah profesi yang anda tekuni ini akan menjadikan Anda bisa memenuhi fitrah sebagai manusia. Berbanggalah. Saat anda bekerja, ternyata anda tidak hanya menunaikan tugas yang tertuang dalam Job Description Anda saja. saat anda bekerja, Anda tidak sekedar membantu dan memudahkan urusan mereka yang anda layani. Namun Anda juga sedang berusaha memudahkan urusan anda sendiri.

Jadi. Siapa pun Kita, apa pun jabatan Kita saat ini, saat Kita telah menemukan cara pandang yang tepat, Kita akan bisa memiliki kehidupan yang lebih indah. saat kita bisa menemukan makna dan menjadikan setiap apa yang kita lakukan dalam pelayanan kita  adalah cara untuk memberikan manfaat bagi orang lain, memudahkan urusan mereka, menyelesaikan kesulitan mereka, maka kita sedang menuju kebahagiaan dan kemudahan hidup Kita sendiri.

"Jika Kamu Berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri."  -QS. Al Isra 17:7-

Comments

  1. hati yang baik maka baiklah seluruh tubuh, kati yang rusak maka rusaklah pula seluru tubuh.

    ReplyDelete
  2. Bagus, saya suka. Semoga kita semua dalam kebaikan

    ReplyDelete
  3. Saran aku, judulnya di ubah deh.. isinya saya suka

    ReplyDelete
  4. Jadi sadar, pekerjaan bukan segalanya.

    ReplyDelete

Post a Comment