Materi Belajar Calon Guru PPPK - Bahasa Indonesia SATUAN BAHASA PEMBENTUK TEKS

Calon Guru PPPK, Materi Pembelajaran

BAHASA INDONESIA, Satuan Bahasa Pembentuk Teks


Apa yang dimaksud dengan satuan bahasa pembentuk teks? Untuk membantu Anda mengingat kembali konsep tentang satuan bahasa pembentuk teks, bacalah penggalan teks di bawah ini.

Membuat Batik Tulis

Proses pembuatan batik tulis adalah proses yang membutuhkan teknik, ketelitian, dan kesabaran yang tinggi. Batik sebagai warisan budaya yang agung perlu kita lestarikan. Dengan latihan yang tekun dan semangat melestarikan budaya, kita dapat belajar membuat batik tulis.

Menurut Anda, unsur bahasa apa sajakah yang membentuk teks tersebut? Apakah Anda menemukan kata, frasa, klausa, kalimat, dan paragraf?

Benar, satuan bahasa pembentuk teks terdiri atas kata, frasa, klausa, kalimat, dan paragraf. Agar lebih jelas, berikut diuraikan satuan bahasa pembentuk teks beserta contohnya.

Kalimat

Kalimat merupakan unsur terkecil dari ujaran atau wacana yang mengungkapkan pikiran yang utuh secara ketatabahasaan. Keraf menjelaskan kalimat adalah satuan gramatikal yang disusun oleh konstituen dasar dan intonasi final. Konstituen dasar itu dapat berupa klausa, frase, maupun kata (Keraf, 2000).

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan kalimat adalah satuan gramatikal yang disusun untuk mengungkapkan pikiran yang utuh secara ketatabahasaan dan disusun oleh konstituen dasar berupa klausa, frase, maupun kata.Contohnya:

1) Anis sedang memasak (klausa)

2) sedang memasak (frase)

3) memasak (kata)

Kalimat di atas jika dilafalkan maka akan jelas peranan intonasi final dalam menentukan status kalimat. Kalimat satuan sintaksis dapat diperluas dengan menambah klausa dengan sifat hubungan parataktis koordinatif atau subordinatif.

a) Klasifikasi kalimat

Berdasarkan jumlah klausanya, kalimat dibedakan menjadi kalimat tunggal, kalimat bersusun, dan kalimat majemuk.

(1) Kalimat Tunggal

Kalimat tunggal adalah kalimat yang terdiridari satu klausa bebas. Contoh:

(a) Kami pergi ke Jakarta.

(b) Pertandingan itu berjalan menarik.

(c) Devi sedang mengerjakan tugas kuliah di kamar.

(2) Kalimat bersusun

Kalimat bersusun adalah kalimat yang terjadi dari satu klausa bebas dan sekurang-kurangnya satu kalimat terikat. Ada beberapa sebutan untuk sebutan kalimat bersusun, misalnya kalimat majemuk bertingkat, atau kalimat majemuk subordinatif.

Contoh:

(a) Mukhlis menjadi terkenal, sejak ia menjuarai lomba matematika di tingkat nasional.

(b) Meida belajar dengan tekun supaya tahun depan ia lulus ujian.

(c) Bunda tidak semarah itu seandainya adik meminta maaf.

(3) Kalimat Majemuk

Kalimat majemuk adalah kalimat yang terjadi dari beberapa klausa bebas yang disebut juga sebagai kalimat setara. 

Contoh:

(a) Anna memenangkan lomba mewarnai dan Ade memenangkan lomba baca puisi.

(b) Malihah mau dibelikan sepatu roda atau sepeda.

Berdasarkan struktur klausanya, kalimat dibedakan menjadi:

(1) Kalimat Lengkap

Kalimat lengkap adalah kalimat yang mengandung klausa lengkap. Sekurang-kurangnya terdapat unsur objek dan predikat.

Contoh:

(a) Pak Irfandi mengajar bahasa Indonesia di kelas.

(b) Triyanur membaca buku di perpustakaan sekolah.

(2) Kalimat Tidak Lengkap

Kalimat tidak lengkap adalah kalimat yang hanya terdiri dari subjek saja, predikat saja, objek saja, atau keterangan saja.

Contoh:

(a) Makan?

(b) Selamat belajar!

(c) Lula!

Berdasarkan amanat wacana, kalimat dibedakan menjadi:

(1) Kalimat deklaratif

Kalimat deklaratif adalah kalimat yang mengandung intonasi deklaratif yang dalam ragam tulis diberi tanda titik.

Contoh:

(a) Kami belajar dengan tekun.

(b) Saya membahas soal latihan setiap hari.

(2) Kalimat introgatif

Kalimat introgatif adalah kalimat yang mengandung intonasi introgatif, yang dalam ragam tulis biasanya diberi tanda tanya.

(a) Apakah Adik sudah belajar?

(b) Kapan Saudara membahas soal-soal ini?

(3) Kalimat imperatif

Kalimat imperatif adalah kalimat yang mengandung intonasi imperatif yang dalam ragam tulis biasanya diberi tanda seru.

(a) Belajarlah dengan tekun!

(b) Tertib di dalam kelas!

(4) Kalimat aditif

Kalimat aditif adalah kalimat terikat yang bersambung pada kalimat pernyataan, berupa kalimat lengkap atau tidak.

Contoh:

(a) Sudah bulan Ramadhan, Ia belum juga datang.

(b) Hanya belum punya anak.

(5) Kalimat responsif

Kalimat responsif adalah kalimat terikat yang bersambung pada kalimat pertanyaan, berupa kalimat lengkap atau tidak.

Contoh:

(a) Baik!

(b) Sehat selalu!

(6) Kalimat interjektif

Kalimat interjektif adalah kalimat yang dapat terikat atau tidak. Contoh:

(a) Akhirnya selesai juga tugas ini!

(b) Semoga sehat selalu!

Berdasarkan pembentukan kalimat dari klausa inti dan perubahannya, kalimat dibedakan menjadi kalimat inti dan kalimat noninti.

(1) Kalimat Inti

Kalimat inti adalah kalimat yang dibentuk dari klausa inti yang lengkap, bersifat deklaratif, aktif, atau netral. Biasanya disebut kalimat dasar.

Contoh:

(a) FN + FV : Ibu memasak

(b) FN + FV + FN: Kami belajar bahasa Indonesia

(c) FN + FN : Saya guru.

(2) Kalimat Noninti

Kalimat ini dapat diubah menjadi kaliat noninti dengan berbagai proses transforasi; 

pemasifan, pengingkaran, penanyaan, pemerintahan, pelepasan, dan penembahan.

Contoh:

(a) Buku dibaca oleh Rizky.

(b) Rizky tidak membaca buku.

(c) Apakah Rizky membaca buku?

Berdasarkan jenis klausa, kalimat dibedakan atas kalimat verbal dan kalimat nonverbal.

(1) Kalimat verbal

Kalimat verbal adalah kalimat yang dibentuk dari klausa verbal. Contoh:

(a) Mazdha menulis surat,

(b) Bunda bertamu ke rumah sepupu.

(c) Surat ditulis Azizah.

(2) Kalimat nonverbal

Kalimat nonverbal adalah kalimat yang dibentuk oleh klausa nonverbal sebagai kontituen dasarnya.

Contoh:

(a) Nenekku pensiunan guru.

(b) Mereka di kamar depan.

(c) Ibu guru cantik sekali.

Berdasarkan fungsi kalimat sebagai pembentuk paragraf, kalimat dibedakan atas:

(1) Kalimat Bebas

Kalimat bebas adalah kalimat yang mempunyai potensi untuk menjadi ujaran lengkap, atau kalimat yang dapat memulai sebuah paragraf, wacana tanpa konteks lain yang memberi penjelasan.

(2) Kalimat Terikat

Kalimat terikat adalah kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai ujaran lengkap.

Contoh:

Sekarang di Riau sukar mencari terubuk (a). Jangankan ikannya, telurnya pun sangat sukar diperoleh (b). Kalau pun bisa diperoleh, harganya melambung selangit (c). Makanya, ada kecemasan masyarakat nelayan di sana bahwa terubuk yang spesifik itu akan punah (d).Kalimat (a) pada teks di atas adalah contoh kalimat bebas. Tanpa harus diikuti kalimat (b), (c), dan (d), kalimat sudah dapat menjadi ujaran lengkap yang bisa dipahami. Sedangkan kalimat (b), (c), dan (d) adalah kalimat terikat. Ketiga kalimat itu secara sendiri-sendiri tidak dapat dipahami, sehingga tidak dapat berdiri sendiri sebagai sebuah ujaran.

Paragraf

Paragraf dapat diartikan sebagai satuan gagasan di dalam bagian suatu wacana, yang dibentuk oleh kalimat-kalimat yang saling berhubungan dalam mengusung satu kesatuan pokok pembahasan. Dengan demikian, paragraf merupakan satuan bahasa yang lebih besar daripada kalimat. Namun, paragraf juga masih merupakan bagian dari satuan bahasa lainnya, yaitu wacana. Sebuah wacana umunya dibentuk lebih dari satu paragraf. (Kosasih & Hermawan, 2012). 

Secara umum, paragraf dibentuk oleh unsur gagasan pokok dan beberapa gagasan penjelas. Selain itu, ada unsur yang disebut kalimat utama dan kalimat penjelas. Hubungan kalimat utama dengan kalimat penjelas sering kali memerlukan kehadiran unsur lain yang berupa kata penghubung atau konjungsi. Berikut disajikan diagram unsur-unsur paragraf.


1) Gagasan Pokok dan Gagasan Penjelas

Secara umum, paragraf dibentuk oleh dua unsur, yakni gagasan pokok dan beberapa gagasan penjelas.

a) Gagasan pokok merupakan gagasan yang menjadi dasar pengembangan suatu paragraf. Dengan demikian, fungsinya sebagai pokok, patokan, atau dasar acuan pengembangan suatu paragraf.

b) Gagasan penjelas merupakan gagasan yang berfungsi menjelaskan gagasan pokok. Penjelasannya, bisa dalam bentuk uraian-uraian kecil, contoh-contoh, atau ilustrasi, kutipan-kutipan, dan sebagainya (Kosasih, 2012).

2) Kalimat Utama dan Kalimat Penjelas

Kalimat utama merupakan kalimat yang menjadi tempat dirumuskannya gagasan pokok. Letaknya bisa di awal, di tengah, ataupun di akhir paragraf. 

Ada pula kalimat utama yang berada di awal dan di akhir paragraf secara sekaligus. Walaupun terdapat pada dua kalimat, tidak berarti paragraf itu memiliki dua gagasan pokok, gagasan pokok paragraf tersebut tetap satu. 

Adapun keberadaan kedua kalimat utama hanya saling menegaskan: kalimat pertama menegaskan kalimat terakhir ataupun sebaliknya (Kosasih, 2012).

Sementara itu kalimat penjelas merupakan kalimat yang menjadi tempat dirumuskannya gagasan penjelas. Satu kalimat utama lazimnya mewakili satu gagasan penjelas.

3) Hubungan Unsur-Unsur Paragraf

Tabel berikut mengemukakan secara lebih jelas tentang hubungan gagasan pokok dengan gagasan penjelas serta kalimat utama dengan kalimat penjelas.

Hubungan antarunsur paragraf, terutama kalimat utama dengan kalimat penjelas atau kalimat penjelas dengan kalimat penjelas lainnya, sering menggunakan kata penghubung atau konjungsi. Konjungsi yang berfungsi menggabungkan kalimat-kalimat itu sering disebut konjungsi antarkalimat. 

Dalam paragraf di atas, tampak satu contoh konjungsi antarkalimat, yakni dengan, demikian. Contoh konjungsi antarkalimat lainnya adalah biarpun demikian, setelah itu, sebaliknya, oleh sebab itu, dan kecuali itu.

4) Ciri-ciri Paragraf yang Baik

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menulis sebuah paragraf.

a) Kepaduan Paragrafì

Kepaduan paragraf adalah keeratan ataupun kekompakan hubungan antarunsur-unsur paragraf, baik itu antarkalimat utama dengan kalimat penjelasnya ataupun antarkalimat penjelas itu sendiri. Kepaduan itu harus tampak dalam isi serta dalam bentuknya. Dengan demikian, kepaduan suatu paragraf mencakup dua hal, yakni kepaduan isi dan kepaduan bentuk.

(1) Kepaduan isi

Kepaduan isi atau koheren adalah kekompakan sebuah paragraf yang dinyatakan oleh kekompakan kalimat-kalimat di dalam mendukung satu gagasan pokok. 

Sebuah paragraf memenuhi syarat kepaduan isi apabila kalimat-kalimat dalam paragraf tersebut tidak melenceng dari gagasan pokoknya. Misalnya, kalimat awalnya membahas masalah bencana alam, namun dalam kalimat keduanya membahas musim durian.

Kepaduan isi ditandai pula oleh hubungan kalimat yang satu dengan yang lainnya berdasarkan penalaran atau kelogisan. Perhatikan contoh berikut!

Contoh:

Pak Amat mengidap kanker paru-paru. Oleh sebab itu, ia banyak merokok. 

Cuplikan tersebut menyatakan hubungan sebab-akibat. Namun demikian, hubungan tersebut tidak logis. Ketidaklogisan tersebut terletak pada penggunaan konjungsi sebab itu, yang berarti kanker merupakan penyebab seseorang banyak merokok. Padahal justru sebaliknya: banyak merokok dapat menyebabkan kanker.

(2) Kepaduan Bentuk

Kepaduan bentuk dalam suatu paragraf dapat dilakukan dengan cara-cara berikut.

(a) Penggunaan konjungsi

Misalnya:

• biarpun begitu, namun untuk menyatakan hubungan pertentangan dengan kalimat sebelumnya;

• sesudah itu atau kemudian untuk menyatakan hubungan kelanjutan dari peristiwa sebelumnya;

• selain itu untuk menyatakan hal lain di luar yang telah dinyatakan sebelumnya;

• sebaliknya untuk menyatakan kebalikan dari yang dinyatakan sebelumnya;

• sesungguhnya untuk menyatakan keadaan yang sebenarnya.

(b) Pengulangan kata atau frasa

Misalnya:

• Anak-anak biasanya mudah terkena ETS. Hal ini karena pada anak-anaksaluran pernapasan mereka lebih kecil dan bernapas lebih cepat daripada orang tua.

• Minyak bumi adalah sumber energy yang tidak terbarukan. Artinya, minyak bumi yang telah dipakai tidak didaur ulang.

(c) Pemakaian kata ganti atau kata yang sama maknanya

Contoh:

Putri penyair kenamaan itu makin besar juga. Gadis itu sekarang duduk di sekolah menengah.

(d) Pemakaian kata yang berhiponim yaitu kata yang merupakan bagian dari kata lainnya.

Contoh:

Dia tidak menyangka bahwa adiknya itu sangat cantik. Rambutnya panjang, matanya bulat, dan hidungnya mancung.

b) Kesatuan Paragraf

Kesatuan paragraf adalah bagian karangan yang terdiri dari beberapa kalimat yang berkaitan secara utuh, padu, dan membentuk satu kesatuan pikiran.

c) Kelengkapan

Paragraf yang baik harus memiliki unsur-unsur paragraf yang lengkap seperti gagasan pokok, kalimat utama, dan kalimat penjelas.

d) Ketepatan Pemilihan Kata

Pemilihan kata harus sesuai dengan situasi dan kondisi pemakainya.Pemakaian kata dia, misalnya, tidak tepat digunakan untuk orang yang usianya lebih tua, yang tepat adalah kata beliau.Demikian pula halnya dengan kata menonton, kata ini tidak tepat bila digunakan dalam paragraf yang menyatakan maksud melihat orang sakit.Dalam hal ini kata yang harus digunakan adalah mengunjungi, menjenguk, atau menengok (Kosasih & Hermawan, 2012).

5) Jenis-jenis Paragraf

a) Paragraf Deduktif

Paragraf deduktif adalah paragraf yang gagasan pokoknya terletak di awal paragraf. Pengembangan paragraf ini mengikuti pola penalaran deduksi. Mula-mula penulis merumuskan gagasan pokok pada kalimat pertama. Kemudian, disusul oleh penjelasan-penjelasan secara terperinci.

b) Paragraf Induktif

Paragraf induktif adalah paragraf yang gagasan pokoknya terletak di akhir paragraf atau pada kalimat. Pengembangan paragraf ini mengikuti pola penalaran induksi. 

Mula-mula penulis memerinci sejumlah data, kemudian mengakhiri paragraf dengan gagasan pokok ataupun simpulannya.

Comments